Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel
  3. MENSUCIKAN JIWA

Supaya Engkau Tidak Bangkrut (Bag.1)

Supaya Engkau Tidak Bangkrut (Bag.1)

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan pada-Nya, memohon perlindungan pada-Nya dari kejahatan diri kita dan keburukan perbuatan kita. Barang siapa yang Allah beri hidayah maka tiada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tiada yang dapat memberi hidayah kepadanya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan rasul utusan-Nya.

Banyak orang yang lalai terhadap kebangkrutan yang menimpa manusia kelak di Akhirat. Jika disebutkan kepada mereka kata bangkrut pikiran mereka langsung melayang kepada masalah kekurangan harta atau kerugian dalam pedagangan. Padahal seperti berikut inilah Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention menerangkan hakikat kebangkrutan dan mengingatkan akan bahayanya.

Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Tahukah kalian siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?” Mereka menjawab: “Orang muflis pada kami adalah yang tidak memiliki uang maupun harta benda.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang muflis dari Umatku ialah seorang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, namun ia datang sementara ia telah mencela si ini, menuding si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu, memukul si ini, sehingga orang yang ini diberikanlah dari pahala kebaikan si muflis, yang itu juga diambilkan dari pahalanya, sehingga ketika seluruh pahala kebaikan habis sebelum selesai melunasi tanggungannya (kezaliman yang harus ia lunaskan), diambilah kesalahan-kesalahan mereka lalu ditimpakan kepada si muflis, kemudian ia dilempar ke dalam Neraka.” [HR. Muslim].

Maka perhatikanlah wahai saudaraku amal perbuatanmu.. berhatilah-hatilah agar jangan sampai engkau bangkrut.. Adapun dunia, engkau pasti akan meninggalkannya, baik engkau orang miskin ataupun orang kaya.. Kemudian tersisalah di hadapanmu rintangan hisab, engkau tidak akan melewatinya sampai engkau melewati masalah kebangkrutan ini.. Maka siapakah orang yang bangkrut itu sebenarnya?!

Sifat-sifat Orang Muflis

Pertama: Tamak yang tercela

Ia adalah sifat yang melekat pada diri seorang muflis yang menghalangi antara dia dan setiap kebaikan. Sifat ini akan selalu membisikkannya kepada kehancuran dan jalan yang sukar dilalui. Ia adalah tawanan ketamakannya, korban kerakusannya, tujuan dan cita-citanya hanyalah dunia. Tamak telah menempati relung-relung hatinya, melekat kuat dengan akal dan pikirannya, sehingga dengan sifat ini ia menjadi tidak peduli halal-haram. Ia akan mencari-cari keringanan mesti lemah dalilnya. Ia selalu demikian, ragu memakan barang haram, tetapi akhirnya ia dikalahkan oleh sifat tamaknya, dipaksa oleh kerakusannya, jiwa dan syahwatnya mendorongnya untuk terjatuh ke dalam keharaman.

Lihatlah bagaimana Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention menerangkan kondisi seorang yang rakus, yang telah bangkrut dalam agamanya dengan kebangkrutan besar, yang tiada perumpamaannya selain seperti serigala lapar memakan kambing yang jauh terpisah dari kelompoknya. Diriwayatkan dari `Ashim Ibn `Adi  may  Allaah  be  pleased  with  them ia berkata: “Aku membeli seratus bagian dari bagian-bagian (ghanimah) Khaibar. Lalu Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention mendengar hal itu dan bersabda: ‘Tidaklah dua ekor serigala kelaparan yang sedang memakan seekor kambing yang dihilangkan oleh pemiliknya lebih merusak terhadap agama seorang muslim daripada ketamakannya mencari harta dan kemuliaan.’” [HR. Ath-Thabrani].

Tamak tercela inilah yang mendiami hati seorang muflis sehingga mendorongnya untuk mengambil harta bukan dari tempatnya. Tamak dan rakus selalu menyertainya yang memaksanya untuk berbuat makar, menipu, sumpah palsu, berdusta, mempedaya, melanggar janji, menyia-nyiakan amanah, menyuap, bergaul dengan riba, mengabaikan manusia, menggunakan muslihat, bahkan ada juga mereka yang menjual agama, iman dan akidahnya seluruhnya karena menggunakan sihir (dalam berdagang)! hanya untuk mendapatkan harta dunia yang sedikit. Allah berfirman (yang artinya): “Padahal mereka yakin bahwa barang siapa menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah keuntungan baginya di Akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalaulah mereka mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 102].

Tentang hal ini Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Jagalahdirilah kalian dari sifat syuhh (rakus berlebihan), karena syuhh telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian; menggiring mereka untuk menumpahkan darah sesama mereka dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan bagi mereka.” [HR. Muslim].

Sebagian ulama berkata: “Syuhh ialah kerakusan yang sangat berlebihan yang mendorong seseorang untuk mengambil sesuatu dari jalan yang tidak halal dan tidak mau mengeluarkan kewajiban dari harta tersebut (zakat). Hakikatnya ialah kerinduan diri terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah tetapi ia terhalangi melakukannya, dan seseorang tidak merasa puas terhadap harta, kemaluan dan rezeki lainnya yang Allah halalkan baginya. Karena Allah telah menghalalkan bagi kita makanan dan minuman yang baik, pernikahan, dan membolehkan mendapatkannya dengan jalan yang halal. Allah juga membolehkan bagi kita darah dan harta orang-orang kafir dan orang-orang yang memerangi kita (dengan jalan yang benar), serta mengharamkan bagi kita mengambil harta dan menumpahkan darah dengan jalan yang tidak benar. Maka barang siapa merasa cukup dengan apa-apa yang dihalalkan baginya maka ia adalah orang Mukmin dan barang siapa melampaui batas hingga mengambil apa-apa yang diharamkan baginya maka itu adalah syuhh tercela yang bertentangan dengan iman. Oleh karena itu Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention menggambarkan bahwa sifat syuhh akan menyuruh untuk memutuskan silaturrahmi, melakuakan makisat dan kebakhilan. Bakhil ialah menahan apa yang di tangan, sementara syuhh ialah mengambil harta orang lain yang bukan haknya secara zalim. Bahkan dikatakan bahwa kemaksiatan seluruhnya bersumber dari sifat syuhh, demikianlah Ibnu Mas`ud  may  Allaah  be  pleased  with  them dan ulama Salaf lainnya menafsirkan syuhh dan bakhil.”

Sebab utama kerakusan yang mendorong seseorang ke dalam jurang kebangkrutan:

* Minimnya qana`ah (merasa puas dan cukup dengan pemberian Allah): Seorang hamba apabila matanya memandang kepada yang diatasnya, melupakan nikmat Allah atas dirinya, syawhat menarik tali kendali kudanya pada dirinya, lalu keinginannya melimpah ruah, angan-angan panjang tanpa batas, maka ketika itu matanya tak akan pernah penuh oleh apapun, jiwanya tak akan pernah puas dengan apapun, semua tujuan dan cita-citanya hanyalah memadamkan api cita-citanya dan cinta terhadap syahwatnya. Saat itu cita-cita dan syahwat tidak ada batasnya!

Jika kondisinya seperti itu maka qana`ah tidak akan mendapatkan tempat di dalam hati dan jiwanya. Kerakusan meledak-ledak di dalam rongganya, bolak-balik dan berputar-putar hingga mendorongnya untuk mendapatkan harta dengan segala cara, halal maupun haram. Namun api karakusannya tidak akan pernah padam oleh seberapa banyakpun harta dan kekayaan yang diperolehnya.

Disinilah Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda kepada Abû Dzar: “Wahai Abu Dzar, apakah menurutmu kaya itu adalah banyak harta?” Aku menjawab: “Ya wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda lagi: “Apakah menurutmu miskin itu adalah sedikit harta?” Aku menjawab: “Ya wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya kaya itu adalah kaya hati dan miskin itu adalah miskin hati.” [HR. Ibnu Hibban].

* Khawatir kehilangan wibawa: Banyak orang kaya bahkan orang miskin, jika Allah menguji mereka dengan kesempitan rezeki, mereka merasa sulit mendapatkannya dengan cara halal sebagaimana biasanya, mereka kehilangan sifat qana`ah dan tidak ridha dengan takdir Allah, lalu mereka berusaha mencara harta dan wibawa dengan berganti arah kepada pekerjaan yang haram demi menjaga posisi dan kondisi mereka.

Mahabenar Allah ketika menggambarkan karakter manusia dengan firman-Nya (yang artinya): “Dan sungguh ia (manusia) terlalu mencintai harta.” [QS. Al-`Adiyat: 8].

Janganlah menjadi orang yang muflis... Jangan jual agamamu dengan harta dunia yang sedikit... Jadilah orang yang qana`ah (ridha dan puas) terhadap rezeki yang dikaruniakan oleh Allah kepadamu, niscaya kemenangan akan selalu menyertaimu di dunia dan Akhirat. Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Telah beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya lalu Allah mengaruniainya qana`ah terhadap pemberian-Nya.” [HR. Muslim].

Tinggalkanlah segala yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, karena sebaik-baik keberagamaan ialah wara’ (menjaga diri dari yang haram, makruh, meragukan dan mubah yang berlebihan). Keselamatan yang sebenar-benarnya keselamatan ialah dengan meninggalkan syubhat dan hal-hal yang meragukan. Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: "Yang halal itu telah jelas dan yang haram itu telah jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (tidak jelas halal-haramnya) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara syubhat itu maka ia telah menjaga kesucian beragama dan kehormatannya. Dan barang siapa terjerumus ke dalam syubhat maka ia telah terjerumus kedalam keharaman, seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar lahan terlarang (seperti tanaman orang lain yang tak boleh diganggu) sehingga ia nyaris terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah, sungguh setiap raja itu mempunyai kawasan larangan. Ketahuilah, sungguh kawasan larangan Allah di bumi-Nya adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya..." [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Kedua: Akhlak yang buruk

Tentang hal ini Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Tahukah kalian siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?” Mereka menjawab: “Orang muflis pada kami adalah yang tidak memiliki uang maupun harta benda.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang muflis dari Umatku ialah seorang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, namun ia datang sementara ia telah mencela si ini, menuding si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu, memukul si ini, sehingga orang yang ini diberikanlah dari pahala kebaikan si muflis, yang itu juga diambilkan dari pahalanya, sehingga ketika seluruh pahala kebaikan habis sebelum selesai melunasi tanggungannya (kezaliman yang harus ia lunaskan), diambilah kesalahan-kesalahan mereka lalu ditimpakan kepada si muflis, kemudian ia dilempar ke dalam Neraka.” [HR. Muslim].

Artikel Terkait