
Akhlak lainnya yang menyebabkan dapat mendatangkan kebangkrutan ini ialah:
* Kezaliman dan kejahatan: Rasulullah
bersabda: “Jagalah diri kalian dari perbuatan zalim, karena kezaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat.” [HR. Muslim].
Allah berfirman (yang artinya): “Dan kelak orang-orang zalim itu akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” [QS. Asy-Syu`ara': 227]. Tempat kembalinya orang zalim pada Hari Kiamat adalah kebangkrutan dan kerugian, ketertipuan dan kegagalan, ia akan dibebankan oleh harta-harta haram yang pernah ia rampas dan diambil kebaikannya atas kehormatan orang lain yang ia coreng. Diriwayatkan dari Abu Hurairah
bahwa Nabi
bersabda: “Barang siapa memiliki sebuah kezaliman pada saudaranya maka hendaklah ia meminta kehalalannya, karena tidak ada di sana (Akhirat) dinar atau dirham sebelum diambil kebaikan-kebaikannya untuk saudaranya. Jika ia tidak memiliki kebaikan, diambillah dosa keburukan saudaranya lalu dilimpahkan kepadanya.” [HR. Al-Bukhari].
Maka kebangkrutan apakah yang lebih besar daripada kebangkrutan ini... Seorang Muslim membawa pahala kebaikan yang besar dan amalan-amalan berharga yang akan memasukkannya ke dalam Surga, tetapi ia menukan kezaliman-kezaliman dan hak-hak orang lain yang menghalanginya. Hal inilah yang membuatnya merugi dengan amalannya, karena pahala amalan-amalan tersebut akan dirampas darinya lalu diberikan kepada orang yang pernah ia zalimi. Hingga ketika pahala kebaikannya habis diambil untuk orang lain, ditaumpukkanlah kepadanya keburukan orang-orang yang pernah ia zalimi.
Bentuk-bentuk kezaliman itu sangat banyak, diantaranya: menutupi keburukan barang jualannya, menipu dalam jual-beli, mencuri dan bermuslihat, mencoreng kehormatan orang lain, menuduh orang tak bersalah, menyingkap aib orang, ghibah, adu domba dan hasad.
Maka berhati-hatilah wahai saudaraku jangan sampai engkau ditimpa kebangkrutan pada Hari penghisaban amal. Rasulullah
bersabda: “Datanglah segolongan manusia pada Hari Kiamat, mereka memiliki kebaikan laksana gunung Tihâmah yang putih, tetapi Allah menjadikannya debu yang beterbangan (tidak menerimanya).” Merekapun bertanya: “Bagaimana bisa demikian wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Salah seorang dari mereka datang (dangan pahala besar itu) sementara ia telah menumpahkan darah si ini, menggigit (memukul) si itu, membicarakan aib si ini...” [HR. Ibnu Majah. Menurut Al-Albani: Shahih].
* Hasad: Adalah pendorong kezaliman yang paling besar. darinyalah muncul kedengkian, kezaliman, penghinaan, ghibah, adu domba dan tudingan. Ia adalah asal akhlak tercela dan barang dagangan orang muflis. Rasulullah
bersabda: “Hasad itu melahap (pahala) kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.” [HR. Abu Dawud].
Adapun keadaan orang yang gemar melakukan ghibah pada Hari Kiamat ia akan dibangkitkan dalam keadaan penuh penyesalan. Rasulullah
telah mengabarkan keadaanya, beliau bersabda: “Ketika aku di-mi`rajkan (ke langit) aku melihat sekelompok kaum yang kukunya tercipta dari perak. Mereka mencakar-cakar muka dan dada mereka. Lalu aku bertanya: ‘Siapa mereka itu wahai Jibril?’ Ia menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang gemar memakan daging manusia (menggibah mereka) dan mencoreng kehormatan mereka.” [HR. Abu Dawud].
Diriwayatkan pula dari Abu Hurarirah
bahwa Rasulullah
bersabda: “Tahukah kalian apa ghibah itu?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lah yang lebih tahu.” Nabi bersabda: “Engkau membicarakan saudaramu dengan pembicaraan yang tidak ia senangi.” Lalu beliau ditanya: “Bagaimana jika pada diri saudara saya memang benar-benar ada apa yang saya bicarakan itu.” Beliau menjawab: “Jika apa yang engkau bicarakan itu ada pada dirinya maka engkau telah meng-ghibahnya, tetapi jika yang engkau bicarakan itu tidak ada pada dirinya maka engkau telah menfitnahnya.” [HR. Muslim].
Maka berhati-hatilah wahai saudaraku, jangan sampai engkau menjadikan lisanmu sebagai kapak penghancur bagi pahala kebaikan-kebaikanmu. Karena memperhatikan kebaikan-kebaikan dan menjaganya adalah jalan keselamatan dari kebangkrutan pada Hari Kiamat.
Di antara cara menjaga pahala kebaikan itu ialah menjaga lisan dari perkataan-perkataan buru, tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik, sebagaimana sabda Rasulullah
: “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat maka ucapkanlah yang baik atau diam.”
Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas
bahwa Rasulullah
melewati dua kuburan lalu bersabda: “Keduanya sedang diazab. Tidakkah keduanya diazab karena dosa besar (menurut mereka). Tetapi tidak, justru itu adalah dosa besar (pada hakikatnya). Adapun salah satu dari keduanya, ia berjalan dengan menyebar adu domba, sementara yang satunya, ia tidak berhati-hati dari terkena air kencingnya.” [HR. Al-Bukhari].
Diriwayatkan dari Hudzaifah
ia berkata: Rasulullah
bersabda: “Tidak akan masuk Surga tukang adu domba.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].
Tak diragukan lagi bahwa ancaman-ancaman ini merupakan penjelasan tentang kebangkrutan yang menyeru setiap muslim untuk bersifat wara`.
Saudaraku, supaya engkau tidak bangkrut, jagalah dirimu dari penyakit rakus, biasakanlah diri untuk selalu qana`ah (puas dengan pemberian Allah) dan ridha terhadap takdirnya. Engkau tidak lebih mulia dari Rasulullah
sementara beliau bermalam dalam keadaan kelaparan. Bahkan beliau wafat sementara pakaian perang beliau digadai (untuk mendapat beberapa kilo gandum). Beliau wafat dalam keadaan tidak kenyang dengan roti. Beliau wafat dalam keadaan tidak memiliki kurma buruk sekalipun untuk mengisi perut beliau. Bahkan berlalu tiga kali hilal (tiga bulan) sementara di rumah beliau tak pernah sekalipun dinyalakan api (untuk memasak)... Dan beliaulah
yang bersabda: “Sungguh kefakiran itu lebih cepat menuju orang yang mengikutiku daripada banjir mengalir ke muara.”
Biasakanlah diri untuk merasa cukup, karena rezeki yang telah dibagikan. Allah telah selesai membagi-baginya 50 ribu tahun sebelum menciptakan makhluk. Dan rezekimu lebih cepat menyusulmu daripada ajalmu. Rasulullah
bersabda: “Sesungguhnya rezeki lebih cepat mencari anak Adam daripada ajal mencarinya.”
Sungguh mengherankan, engkau beriman bahwa ajal tidak akan salah dalam mengenaimu, sementara engkau mengira bahwa rezeki telah salah sasaran tidak mengenaimu, padahal ia lebih cepat mengarah padamu dari pada ajalmu.
Berusahalan melakukanlah sebab-sebab yang mendatangkan rezeki dan perbaikilah ketawakkalanmu kepada Allah. Minta tolonglah kepada-Nya dan jangan engkau merasa lemah. Ridhalah terhadap pemberian Allah, karena setiap jiwa tak akan meninggal dunia sampai ia menghabiskan jatah rezekinya. Tidaklah kerakusan itu akan menambah kesempurnaan rezeki sedikitpun dan tidak pula kebakhilan itu dapat menjaganya. Maka perhatikanlah!
Kemudian berhati-hatilah jangan sampai pahala-pahala kebaikanmu tersia-siakan lantaran ghibah, kata-kata buruk, akhlak tercela dan pembatal-pembatal amalan lainnya. Yang menjadi ukuran bukan amal saja, tetapi juga bagaimana engkau menjaga pahala amalan-amalan itu dan menghindari hal-hal yang dapat merusak dan membatalkannya. Bisa saja engkau beramal, lalu penyakit riya meruntuhkannya, perasaan ujub menghapusnya, meninggalkan shalat merusaknya, akhlak yang buruk membinasakannya, menyakiti orang lain menghilangkannya, hasad melahapnya. Maka janganlah engkau merugi dengan amalanmu. Jagalah ia dengan menghindari hal-hal yang dapat membatalkannya, menjauhi ketamakan dan mempergauli manusia dengan akhlak mulia, menjaga niat yang baik dan keikhlasan dan meninggalkan rasa ujub (bangga diri).
“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagi kalian amalan-amalan kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [QS. Al-Ahzab: 70-71].
Semoga shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.